Imam Masjid di Aceh Terkena Hukum Cambuk

Imam Masjid di Aceh Terkena Hukum Cambuk

Seorang pemuka agama dan Imam masjid di Aceh terkena hukum cambuk akibat ketahuan berselingkuh dan berbuat mesum di dalam mobil dengan seorang perempuan. Sontak hal ini menjadi viral dan menjadi perbincangan media sosial.

Mukhlis bin Muhammad (46), imam masjid sekaligus anggota Mejelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Besar dicambuk 28 kali di Taman Bustanussalatin Banda Aceh (31/10) lalu karena terpegok tengah bersama seorang perempuan padahal Ia telah memiliki istri.

Saat ditangkap salah satu personel Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (pengawas pelaksanaan syariat Islam Aceh) 9 September lalu, Mukhlis sedang bersama seorang perempuan berinisial N (33) di dalam mobil yang tengah terparkir disekitar pantai wisata Ulee Lheu. Saat ditangkap mereka berdua berada di kursi mobil bagian tengah.

Baca Juga: Viral Wanita Berbusana Pengantin Foto Di Pemakaman

Satpol PP dan Wilayatul Hisbah menyita barang bukti berupa selendang. Keduanya melanggar ketentuan iktilat atau berduaan dengan seseorang yang bukan muhrim, ditambah lagi dengan pencemaran nama baik dan jabatan yang diterimanya. Wakil Bupati Aceh Besar, Husaini A Wahab juga bertindak tegas dengan memecat Mukhlis dari kepengurusan MPU.

“Ini hukum Allah, siapapun wajib dicambuk jika terbukti melakukan kesalahan sekalipun dia sebagai anggota MPU,” kata Husaini seperti yang dikutip dari BBC News Indonesia via Tribunnews, Jumat (1/11/2019).

Warga Mendesak Qanun Jerat Pejabat 

Setelah Imam Masjid di Aceh terkena hukum cambuk, warga mendesak Qanun jerat pejabat 
Sumber: dialeksis.com

Eksekusi hukum cambuk terus dilakukan di Aceh. Sebagian warga mendesak qanun tak cuma mengurus perkara yang bersifat personal, tapi juga kasus yang merugikan publik, salah satunya korupsi. Namun hingga saat ini, pemerintah Aceh menyebut qanun belum mengatur soal korupsi.

Hukum syariat Islam di Aceh berlaku setelah perjanjian perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka dan pemerintah di Helsinki, Finlandia, tahun 2005. Wakil Bupati Aceh Besar, Husaini, mengakui bahwa qanun belum menjangkau seluruh kasus hukum.

Pengamat hukum Islam dari UIN Ar Raniry, Irwan Abady menilai hukuman cambuk untuk anggota Majelis Permusyawaratan Ulama bukan cerminan penegakan hukum ‘tajam ke atas’.

Irwan mengatakan, jika yang dicambuk politikus dan dia ulama besar seperti wakil bupati, itu baru menggambarkan pemerataan hukum syariat, karena hukuman cambuk anggota MPU ini hanya berpengaruh pada nama baik institusi tersebut.

Baca Juga: Polisi Memburu Guru Ngaji Pelaku Bom Bunuh Diri Di Medan

Eksekusi cambuk di Banda Aceh, Kamis (31/10) ini, adalah yang kedua yang tidak dilaksanakan di pekarangan masjid. Selain Mukhlis, dan N, dan seorang perempuan berusia 18 tahun berinisial R juga dicambuk tujuh kali.

R dihukum karena dipergoki berduaan dengan laki-laki yang tidak berstatus suaminya. Adapun laki-laki itu tak dieksekusi karena tergolong anak di bawah umur.

Mengenal Qanun dan Hukum Cambuk

Mengenal Qanun dan hukum cambuk
Sumber: suara.com

Provinsi Aceh merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan syariat yang mengacu pada ketentuan hukum pidana Islam, yang disebut juga hukum jinayat. Undang-undang yang menerapkannya disebut Qanun Aceh No. 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Meskipun sebagian besar hukum Indonesia yang sekuler tetap diterapkan di Aceh, pemerintah provinsi dapat menerapkan beberapa peraturan tambahan yang bersumber dari hukum pidana Islam.

Pemerintah Indonesia secara resmi mengizinkan setiap provinsi untuk menerapkan peraturan daerah, tetapi Aceh mendapatkan otonomi khusus dengan tambahan izin untuk menerapkan hukum yang berdasarkan syariat Islam sebagai hukum formal.

Beberapa pelanggaran yang diatur menurut hukum pidana Islam meliputi produksi, distribusi, dan konsumsi minuman beralkohol, perjudian, perzinahan, bermesraan di luar hubungan nikah, dan seks sesama jenis. Setiap pelaku pelanggaran yang ditindak berdasarkan hukum ini diganjar hukuman cambuk, denda, atau kurungan.

Firda Salim
Firda Salim
Firda Salim adalah lulusan Ilmu Jurnalistik, dengan pengalaman menjadi jurnalis di media lokal dan saat ini aktif menulis di berbagai website di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *